Nama: akbarusnyah Mata Pelajaran yang di ajarkan: biologi - IPA E-Mail: cikgu_akbar@yahoo.com Saya dari TANJUNG REDEB, BERAU, TANJUNG REDEB dan saya 35 [ P ]. Sekolah saya: SMP NEGERI 5 TANJUNG REDEB Di daerah: JL.GATOT SUBROTO GG. JERUK 154 TANJUNG REDEB Propinsi: KALIMANTAN TIMUR Homepage sekolah: http:// Saran: Apapun yang namanya perubahan selalu disertai dengan pengorbanan. Demikian juga perubahan kutikulum dari K.94 ke KBK. Dengan akan diberlakukannya KBK sudah pasti akan membawa dampak negatif pada tingkat sekolah khususnya guru, misalnya :
KEBINGUNGAN DAN KEENGGANAN,Karena sebenarnya semua orang, termasuk guru, pada hakikatnya tidak suka berubah tanpa ada upaya yang nyata dari inovator untuk mengubahnya. Keadaan umum seperti ini pernah diingatkan oleh Jack Welch, seorang Chief Executive Officer perusahaan raksasa kelas dunia, General Electric, yang digambarkan dalam kalimat: Change has no constituency. People like status quo. They like the way it was.
Oleh karena itu, demi suksesnya implementasi KBK tahun depan, kita perlu mengajak para guru untuk berubah, mau mengadopsi inovasi ke dalam praksis pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.(BY SUYANTO, UNJ)
Ditambah lahi dengan kurang akomodatif PEMERINTAH DAERAH terhadap perubahan pendidikan.
Untuk itu diperlukan suatu cara yang cukup efektif untuk mensosialisasikan KBK HINGGA KE TINGKAT GURU TERUTAMA DI DAERAH TERPENCIL, BUKAN HANYA SEKEDAR PELATIHAN ATAUPUN PENATARAN.Oleh karena itu, demi suksesnya implementasi KBK tahun depan, kita perlu mengajak para guru untuk berubah, mau mengadopsi inovasi ke dalam praksis pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
Konsekuensinya guru harus dilatih bagaimana mempersiapkan semua model pendekatan baru dalam suatu pengembangan perangkat pembelajaran yang berimplementasi KBK seperti: pembuatan satuan pelajarannya, metode pembelajarannya, evaluasinya, alat bantunya, perubahan filosofinya, pergeseran paradigma interaksi pembelajaran dengan siswanya, dan sebagainya. Tanpa adanya persiapan yang baik dilihat dari aspek profesionalisme guru, sulit dibayangkan akan terjadinya keberhasilan KBK.
Filosofi konstruktivisme perlu diketahui guru. Metode pembelajaran inquiry, discovery, dan juga contextual learning, perlu diperkenalkan dan dilatihkan kepada para guru kita. Leadership kepala sekolah juga perlu memberi dukungan terhadap perubahan di sekolah.
Infrastruktur sekolah juga perlu diperbaiki. Pendeknya, masih banyak pekerjaan rumah bagi kita untuk berbenah dalam rangka mengimplementasikan KBK tahun depan. Tanpa upaya itu saya khawatir KBK akan berubah makna menjadi "Kurikulum Bakalan Konyol" sebagaimana juga Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang menyertai pendekatan kurikulum 1984 berubah menjadi CATAT BUKU SAMPE ABIS). Semoga tidak begitu. VIVA KBK Tanggal: 10/02/2003
|